PIKUKUH KARUHUN BADUY DINAMIKA KEARIFAN LOKAL DI TENGAH MODERNITAS ZAMAN

Siti Nadroh

Sari


Apa pentingnya kearifan lokal, terutama untuk zaman sekarang? Tulisan ini berusaha meyakinkan bahwa kearifan lokal sangat berguna bagi kehidupan manusia di berbagai zaman. Masyarakat Baduy, kendatipun dekat dengan kepungan modernitas di sekelilingnya, hanya berjarak sekitar 175 KM dari Ibu Kota Jakarta, mereka berada di perkampungan Kanekes, di kawasan Gunung Kendeng, Lebak, Banten,  masih tetap kukuh pada kepercayaan  karuhun (leluhur) dan segala  ritual yang menyertainya. Ritual-ritual yang dilakukan bukan sekedar rutinitas atau bersenang-senang. Tetapi menjadi budaya yang menyiratkan simbol penjagaan terhadap amanat karuhun. Dari sini muncul diskusi-diskusi tentang nilai-nilai luhur menyangkut aspek sejati kehidupan manusia. Ternyata masyarakat Baduy adalah masyarakat yang taat terhadap sang Pencipta, patuh terhadap leluhur, hormat terhadap alam dan harmonis dalam kehidupan Masyarakat Baduy meyakini kehidupan ini adalah anugerah dari Pangeran, Tuhan  Maha Kuasa, yang harus dijaga. Masyarakat Baduy berpegang pada ‘pikukuh’ dan pituturLojor teu meunang dipotong, Pondok teu meunang disambung (Panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung”.


Kata Kunci


Pikukuh, Baduy, Kearifan Lokal, Modernitas

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


AS, Markus. Kehidupan Suku Baduy. Bandung : CV Rosda Bandung. 1986

Bakker, J.W.M. Agama Asli Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1976.

Budi, Dinda Satya Upaja. Angklung Baduy dalam Upacara Ritual Ngaseuk. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta. 2001

Ekadjati, S. Edi. Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah. Bandung: PT Dunia Pustaka Jaya, 2014.

Garna, Judhistira K. Masyarakat Baduy di Banten Selatan, Jawa Barat: Sistim Matapencaharian Hidup dan Dasar Kemasyarakatan. Bandung : Universitas Padjadjaran. 1973

Hakim, Lukman. Baduy dalam Selubung Rahasia. Banten : Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Banten.

Hasman, Don dan Filomena Reiss, Urang Kanekes; Baduy People. Jakarta; Subur printing, 2012.

Jamaluddin, “Makna Simbolik Huma (Ladang) di Masyarakat Baduy,” Mozaik (Journal of Humanism) V, No. 1 januari 2012.

Kurnia, Asep dan Ahmad Sihabudin. Saatnya Baduy Bicara. Jakarta: Bumi Aksara, 2010.

Lubis, Nina dkk., Sejarah Kabupaten Lebak. Pemerintah Daerah Kabupaten lebak bekerjasama dengan PPKKLP Universitas Padjajaran, 2006.

M. S. Djoewisno. Potret Kehidupan Masyarakat Baduy. Pandeglang: Cipta Pratama ADV, 1987.

Mutaqien, Zaenal. “Peran Perempuan dalam Tradisi Sunda Wiwitan. ” Tesis S2 Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2015.

Nurendah, Hamidimadja, D.H. Baduy Tanah Karuhun, Jilid I (Satera Lisan Baduy dan Lingkungan Hidup). Yayasan Paku Tangtu Telu, 1997.

Permana, R. Cecep Eka. “Konsep Budaya kesejajaran Pria dan Wanita pada Masyarakat Baduy.”. Wacana, Vol. 1, No.2, Oktober 1999.

Permana, R. Cecep Eka. Kearifan Lokal Masyarakat Baduy dalam Mitigasi Bencana. Jakarta : Wedatama Widya Sastra. 2010

Permana, R. Cecep Eka. Kesetaraan Gender dalam Adat Inti Jagad Baduy. Jakarta : Wedatama Widya Sastra. 2006.

Permana, R. Cecep Eka. Tata Ruang Masyarakat Baduy. Jakarta : Wedatama Widya Sastra. 2005.

Sam, A Suhandi, dkk. Tata kehidupan Masyarakat Baduy di Jawa Barat. Bandung: DEPDIKBUD Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1986.

Saputra, Suria. Baduy “Daftar Naskah Mengenai Baduy. Bandung: 1995.

Suhada. Masyarakat Baduy dalam Rentang Sejarah/Subada. Banten: Dinas Pendidikan Provinsi Banten, 2003

Sutendy, Uten. Damai dengan Alam, Kearifan Hidup orang Baduy. Tangerang Selatan : Media Komunika. 2010

Tomin, Agus. Suku Pedalaman Banten Indonesia, Baduy, Real Green Living. Jakarta : Buku Kita. 2012


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Creative Commons License
Pasupati is licensed under a Creative Commons Attribution 3.0 Unported License.